Translate

Senin, 29 Februari 2016

Teman tapi bukan teman

Bayangkan, ketika kamu lagi makan makanan favorite kamu, terus org disamping kamu bercerita tentang kucingnya kesayangnya yang sakit, muntah-muntah juga sakit perut.. gimana perasaanmu?
Sama halnya ketika seseorang ngingetin tentang mantan, yang dia sendiri tau kalau aku gak suka ada yang menyebut tentang dia (mantan). Bukan karena belum move on yaa.. tapi, kata yg mengingatkan tentang masa lalu  membuat mood jadi buruk.. sebuah kata yang memicu beragam reaksi kimia di memori otak dan mulai memutar kembali kenangan sama mantan yang gak menyenangkan, sebuah kata yang benar-benar membuat kesal.. aku udah ikhlas putus sama mantan, tapi kalau diingatkan lagi kenangan buruk tentang itu, rasanya gimana yaa..
Dan entah kenapa, sampai saat ini orang yang selalu mengingatkan tentang hal buruk di masa lalu justru menyebut dirinya teman.. entahlah.....
Seandainya aku punya keberanian untuk mengutarakan apa yang ada di kepalaku langsung di depan hidungnya.. berlaku sarkastik.. dan sedikit penekanan di nada suara.. mungkin bisa mengubah cara berpikirnya yang dari dulu mengira aku orangnya easy going aja.. aku memang gak pernah protes, tapi bukan berarti menerima apa yg dilakukannya.. serius, ini masalah serius.. !!
Apa cuma aku yang mengalami ini?
Bercerita tentang masalah pribadiku ke teman yang ternyata pas udah keluarin unek-unek, besoknya semua teman dia juga udah tau tentang masalahku yang seharusnya tidak dia ceritakan kembali ke teman-temannya..
Kesalahan kecil yang aku lakukan, jadi bahan bercandaan..
Aku gak butuh teman yang maunya dia doang yang sempurna tanpa cela, dan yang lain mah gak ada apapanya.. setelah dipikir-pikir, orang seperti itu harusnya gak layak melabel dirinya teman.. iya kan? Atau cuma aku yang punya teman seperti itu?
Datang ketika butuh, pas lagi gak butuh, malah kejelekan-kejelakan tentang aku yang diceritain ke teman-temannya.. biar bisa menghidupkan suasana nongkrong, jadi harus ada bahan cerita seru yang bisa ditertawakan.. kasian banget yah aku yang gak bisa menolak dan merubah itu. Tapi sebenarnya lebih kasihan orang yang tahunya cerita tentang kejelakan temannya sendiri.. habis itu dibaik-baikin kalau pas lagi butuh bantuan.. kasian kasian...
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, lebih kasihan orang yang mendengarkan dan mengiyakan setiap kata yang keluar dari mulut teman yang suka menjelek-jelekan tapi pas ketemu bareng satu meja, malah pura-pura gak ada apapa.. parah !!!!!
Teman tapi bukan teman, aku ingin punya kekuatan untuk lebih tegas dalam mengungkapkan keberatanku tanpa harus menyinggung yang bersangkutan.. atau mungkin pakai cara lama yang selalu berhasil, menghindari orang-orang yang menyebut dirinya teman tapi gak berperilaku seperti teman yang seharusnya.. hm hm